
Oleh: Bapak Muhammad Natsir (Pak Natsir)
Marilah kita fikirkan sejenak, apakah pada hakikatnya sumber kekuatan bagi daya tahan masyarakat tau bangsa, yang sering kali disebut Ketahanan Nasional itu?
Apa yang dinamakan Ketahanan Nasional atau ketahanan negara itu, pada hakikatnya adalah “daya tahan” warga negaranya, daya tahan rumah tangganya. Pada akhirnya semua itu bergantung kepada “daya tahan” peribadi manusia, dari mana segala-galanya itu tersusun.
Hadis Nabi kita Muhammad s.a.w yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari salah seorang sahabat yang bernama Abu Hurairah r.a. mencakup ketiga-tiga bidang tersebut, bidang hidup keperibadian, hidup bermasyarakat dan hidup bernegara, sebagai satu keseluruhan yang hendak ditingkat daya tahannya itu secara padu, yang satu tidak dapat dilepaskan dari yang lain.
Rasulullah S.A.W berpesan (menerusi hadis di bawah yang bermaksud)
“Dari Abu Hurairah r.a: bahwa Nabi saw telah bersabda: “Ada tujuh kelompok yang akan mendapat perlindungan Allah pada hari yang tiada perlindungan kecuali perlindungan-Nya.
Mereka adalah pemimpin yang adil, anak muda yang senantiasa beribadah kepada Allah Azza wa Jalla, seseorang yang hatinya senantiasa dipertautkan dengan masjid, dua orang yang saling mencintai kerana Allah yakni keduanya berkumpul dan berpisah kerana Allah, seseorang yang berzikir kepada Allah di tempat yang sunyi kemudian ia mencucurkan air mata, seorang laki-laki yang ketika dirayu oleh seorang wanita bangsawan lagi rupawan lalu ia menjawab:
‘Sungguh aku takut kepada Allah’ dan seorang yang mengeluarkan sadaqah lantas disembunyikannya sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diperbuat tangan kanannya.”
(Sumber: H.R. Bukhary-Muslim)
Yakni ada tujuh corak (manusia yang kalau ketujuh-tujuhnya ini ada,dan berfungsi di tengah-tengah masyarakat,maka masyarkat itu akan diberi perlindungan oleh Allah s.w.t.; diberi ketahanan terhadap segala macam godaan hidup ini,dari dalam ataupun dari luar,di kala sudah tidak ada lagi perlindungan , selain perlindungan dari Allah s.w.t.
Tujuh macam yang dimaksudkan oleh Rasulullah S.A.W adalah seperti berikut,
Pertama:
“Pemimpin yang adil”.
Iaitu penguasa yang adil, penguasa yang menegakkan keadilan baik untuk dirinya sendiri ataupun untuk masyarakat keseluruhannya.
Dan keadilan yang ditegakkan oleh penguasa ini adalah keadilan di segala bidang. Baik di bidang hukum, di hak asasi manusia, di bidang politik,maupun di bidang kemasyarakatan.
Walhasil,di bidang segala aspek hidup.Apabila rasa keadilan dan hukum sudah dikecap dan penguasa dan umat seluruhnya,rasa senasib seperuntungan , merupakan sumber tenaga untuk ketahanan umat dan bangsa.
Kedua, kata Rasulullah S.A.W.:
“Anak muda yang senantiasa beribadah kepada Allah Azza Wa Jalla”.
Generasi muda yang sentiasa tumbuh subur ibadatnya kepada Allah s.w.t.; tumbuh subur kebaktiannya kepada Allah dan khidmatnya kepada sesama manusia.
Iaitu satu generasi muda yang terpelihara tujuan hidupnya, akhlak budi pekertinya dari segala macam penyelewengan di dunia ini.
Generasi muda yang demikian itulah,pada akhirnya, merupakan gudang tenaga yang positif, yang mampu memikul yang berat, menjemput yang jauh, untuk keselamatan dan ketahanan bersama.
Ketiga, sabda Rasulullah S.A.W.,
“Seseorang yang hatinya senantiasa dipertautkan dengan masjid”.
Manusia yang hatinya sentiasa bertaut dengan masjid. Masjidnya berfungsi sebagai masjid yang dituntunkan (diperlihatkan) oleh Rasulullah S.A.W., masjid yang membina jemaahnya dan Jemaah yang membina masjidnya. Dari masjid itu terpancar tuntunan (contoh) bagi manusia ini, baik yang hidupnya di dunia ini ataupun hidup ukhrawinya.
Masjidlah yang berperanan sebagai pusat kehidupan umat,di mana kita menempa hubungan jiwa kita dengan Khaliq (Maha Pencipta), dan hubungan ukhuwah (persaudaraan) dengan sesama anggota hamba Allah,dalam menghadapi suka dan duka.
Yang keempat, kata Rasulullah S.A.W.:
“Dua orang yang saling mencintai kerana Allah yang yakni keduanya berkumpul dan berpisah kerana Allah”.
Dua peribadi yang membina persahabatan,cintanya satu sama lain kerana Allah semata-mata sanggup membina rumah tangga dengan rukun dan damai dalam ikatan kasih sayang,diliputi oleh suasana kedamaian, penuh keragaman.
Peribadi-peribadi yang bersedia menghadapi sakit dan senang, sama-sama rela dan gembira berkorban dalam menghadapi serta mencari keredhaan Allah semata-mata.Kehidupan rumahtangga yang ragam itulah merupakan sendi-sendi yang kuat bagi masyarakat,yang kuat dan mantap.
Yang kelima, kata Rasulullah s.a.w.:
“Seseorang yang berzikir kepada di tempat yang sunyi kemudian ia mencucurkan air mata”.
Peribadi-peribadi yang di waktu sepi dan sunyi di tengah malam, orang semuanya tidur, ia bangun, kemudian solat, ingat kepada Allah s.w.t, berdoa kepada kemaslahatan masyarakat ini, berdoa dia untuk menjalankan tugasnya,minta perlindunagan dan minta pertolongan kepada Allah s.w.t diiringi oleh titisan air mata.
Yang keenam, kata Rasulullah s.a.w.:
“Seorang laki-laki yang ketika dirayu oleh seorang wanita bangsawan lagi rupawan lalu ia menjawab: ‘Sungguh aku takut kepada Allah’.
Peribadi,yang digoda oleh wanita yang mempunyai kedudukan dan kecantikan tetapi ia berkata: “Inni akhafullah!”–“Aku takut kepada Allah !” Manusia yang berada dalam satu masyarkat yang kebal terhadap segala macam godaan-godaan yang demikian itu,maka semua sikap dan semua lidah, mengatakan tidak, kami menolak segal macam kemaksiatan itu, kerana kami taat kepada Allah s.w.t.
Kami hanya berbakti kepada-NYA semata-mata.
Masyarakat yang bersih dari kemaksiatan itulah yang kebal dari segala macam makar (tipu muslihat) musuh yang selalu berusaha meruntuhkannya dari dalam dengan jalan meruntuhkan akhlak dan budi pekerti umat.
Kemudian yang terakhir,yang ketujuh, kata Rasulullah s.a.w.:
“Seorang yang mengeluarkan sadaqah lantas disembunyikannya sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diperbuat tangan kanannya.”
Seorang hartawan lagi dermawan, mengorbankan hartanya tidak untuk pamer, tapi diam-diam mengorbankan hartanya itu,ditimbuninya jurang antara yang miskin dengan yang kaya. Dengan diam-diam tanpa gembar-gembur,seakan-akan tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya.
Satu kelompok, satu kumpulan dari orang-orang hartawan dan dermawan ini yang tidak mempamerkan kekayaanya, tidak menggali jurang yang lebih dalam lagi antara kaya dan miskin tapi dia timbuni jurang itu dengan hartanya,dia korbankan hartanya ke tengah-tengah masyarakat dengan ikhlas kepada Allah, mengharapkan keredhaan Ilahi semata-mata bersih dan takbbur dan ria-an-naas (menunjuk-nunjuk kepada orang).
Masyarakat yang tidak dapat digoda oleh segala macam hasutan,oleh usaha orang mengobarkan-ngobarkan dendam dan kesumat antara kelas dan kelas,adalah masyarakat yang bersih dari nafsu serakah,mengakibatkan si miskin makin melarat ,sedangkan si kaya makin mewah,tetapi yang diliputi oleh rasa tanggungjawab sosial pada setiap anggotanya,di mana timbullah kaedah hidup dan memberi hidup.
BERPERANAN MENGIKUT KESESUAIAN DIRI KITA
Inilah tujuh macam yang dikatakan oleh Rasulullah s.a.w.:
Kalau ketujuh macamnya ini dari penguasa yang adil sampai yang nombor tujuh yang paling bawah,airmata yang mengalir dari doa yang makbul dari para Ulama’ ini, berfungsi benar-benar di tengah masyarakat, maka inilah kata Rasulullah s.a.w. masyarakat yang mempunyai ketahanan mutlak.
Ketahanan yang bukan diberikan oleh manusia, tetapi ketahanan yang diberikan oleh Allah s.w.t., suatu payung perlindungan, bila mana payung-payung perlindungan buatan manusia berupa alat-alat material itu tidak berdaya lagi. Dengarkan pesan Ilahi dalam Surah Ar-Rum ayat 30 yang berbunyi:
“Hadapkanlah mukamu, wajahmu, bagi satu-satunya agama yang benar dengan bersih dan suci.”
Islam itu adalah agama fitrah, yang Allah jadikan bagi manusia ini, yang tidak ada lagi satu agama lain selain agama fitrah ini.
“Tidak ada perubahan bagi keajaiban Allah s.w.t. itu.”
“Itulah agama yang lurus dan benar”
“Tapi sayang sebahagian daripada manusia itu tidak mengetahui.”
Kewajiban kita sebagai Muslim di tempat kita masing-masing dengan daya dan kesanggupan yang ada di dalam diri kita, masing-masing kita berjanji pada diri kita, sebagaimana sabda Rasulullah s.a.w.
Kita mulai dari diri kita untuk Bersama-sama menciptakan suatu keadaan di tengah-tengah masyarakat kita ini sesuai dengan kedudukan kita msing-masing,entah sebagai penguasa atau yang dikuasai, menciptakan tujuh sila (peraturan) yang dipesankan oleh Rasulullah s.a.w. supaya tiap-tiap unsur itu benar-benar melakukan perannya di tengah-tengah masyarakat.
Mudah-mudahan Allah s.w.t memberikan kekuatan lahir dan batin kepada kita semua,memberikan perlindungan dan pertolongan ,di dalam menunaikan tugas kita Bersama,membina Ketahanan Umat, Bangsa dan Negara. Amin.
